
Ketika matahari bicara
Rp 25,000
MEMBACA inti tulisan-tulisan Ahmad Suroso, dengan susunan redaksional khas editorial yang lugas tapi kritis, ekspresif tapi populer, saya mendapati sebuah perpaduan antara kritik yang santun dengan daya nålar yang kuat. Responnya sebagai seorang jumalis terhadap isu-isu hangat yang sedang berkembang di masyarakat menunjukkan sikap kritis dan kepedulian terhadap upaya pencarian solusi persoalan. Di samping itu, tampak juga kesungguhan Penulis "memaksa" pihak-pihak yang berwenang untuk lebih serius dan segera dalam menangani sebuah persoalan.
Perpaduan itu dijumpai misalnya dalam tulisan "Ketika DPR Miskin Nurani, Penulis "blak-blakan mengatakan DPR sudah kebablasan, la menuliskan....kesempatan untuk introspeksi atau mengkritik diri sendiri hilang, namun kritik pada pihak lain tak henti-hentinya dilakukan.... Bagi saya, kritik dengan gaya semacam itu menunjukkan keberhasilan Penulis men-dialog-kan hati dengan pikiran sambil mengirimkan harapan sekaligus 'cubitan' kecil agar pihak yang dikritik lebih tahu diri. Buku ini hadir menambah referensi bagi kita untuk melihat secara sederhana berbagai persoalan bangsa ini meskipun sungguh tidak ada problem bangsa yang sederhana sifatnya
